Senin, 05 Januari 2015

ARTIKEL tentang CAHAYA



CAHAYA        
Setelah mendengar kata cahaya, maka akan muncul pertanyaan dalam pikiran kita. Salah satu pertanyaan – pertanyaan tersebut adalah Apa itu cahaya ? apakah cahaya merupakan gelombang, partikel atau kedua – duanya ? Uraian di bawah ini akan menjawab pertanyaan – pertanyaan tersebut.
Sebelumnya, penjelasan tentang cahaya diawali dari teori – teori tentang cahaya itu sendiri. Pendapat para ahli mengenai cahaya diawali dengan teori penglihatan. Pada zaman Yunani Kuno, Pythagoras dan Democritos berpebdapat bahwa kita dapat melihat benda karena benda itu mengeluarkan butir – butir yang masuk ke dalam mata. Kemudian ilmuwan lain seperti Empedocks ( 484 – 424 SM ), Plato ( 427 – 347 SM ), dan Euclides ( ± 300 SM ) mengemukakan bahwa kita dapat melihat karena dari mata kita keluar sesuatu, kemudian menumbuk butir – butir yang dikeluarkan benda yang kita lihat. Seorang ilmuwan dari Arab, yaitu Alhazan ( 965 – 1038 ) berpendapat bahwa kita dapat melihat karena ada cahaya yang di pancarkan atau dipantulkan oleh benda itu.
Berasal dari pendapat – pendapat tersebut, akhirnya beberapa ahli tertarik untuk mengembangkan teori tentang cahaya.
·           Sir Isaac Newton ( 1642 – 1727 ). Menurut Newton, ia beranggapan bahwa cahaya mungkin terbuat dari partikel atau gelombang dan ia tidak ingin salah satunya diabaikan. Akan tetapi, sejak teori partikel terbukti cocok dengan sebagian besar gejala dan fakta yang ada, teori itu menjadi popular dikalangan pengikut – pengikut Newton. Selain  itu, ia juga mengemukakan teori emisi bahwa sumber cahaya memancarkan partikel – patrikel yang sangat kecil ke segala arah dengan kecepatan yang sangat besar.
·           Christian Huygens ( 1629 – 1695 ). Pada tahun 1690, Christian Huygens ( pakar fisika Belanda ) tidak yakin tentang teori partikel tersebut. Ia mengajukan alasan bahwa cahaya berjalan dalam wujud gelombang – gelombang. Christian Huygens memiliki bukti yang kua, tetapi setelah lebih dari 100 tahun baru dilakukan sebuah percobaan yang mendukung teori gelombang. Pada awal tahun 1900-an banyak bermunculan temuan – temuan yang lebih jauh menjelaskan mengenai hakikat cahaya. Temuan – temuan itu menunjukkan bahwa dalam beberapa hal pengikut – pengikut Newton dan Huygens benar. Di dalam bukunya yang berjudul Traite de La Lumie re, yang diterbitkan pada tahun 1690, Huygens menolak teori partikel cahaya. Ia menyimpulkan bahwa karena cahaya bergerak begitu cepat, tentu cahaya itu lebih tepat dikatakan terdiri atas gelombang, bukan partikel. Huygens mengemukakan bahwa gelombang cahaya dibawa oleh unsur “ eter “. Eter adalah unsur kimia yang tidak terlihat, tidak mempunyai berat, dan ada di mana – mana ( udara dan ruang angkasa ). Dalam “ Prinsip Huygens “, ia menunjukkan bahwa setiap titik yang ada pada sebuah gelombang dapat dianggap menghasilkan gelombang – gelombang kecil yang bergabung bersama untuk membentuk sebuah garis batas gelombang. Gagasan ini menjelaskan dengan rapi bagaimana pembiasan ( refraksi ) terjadi. Karena gelombang dapat saling melintasi, teorinya tersebut juga menerangkan mengapa berkas – berkas cahaya tidak saling bertabrakan ketika bertemu.
·           Thomas Young ( 1773 – 1829 ) dan Augustin Jean Fresnel ( 1788 – 1827). Penelitian Thomas Young dan Augustin Jean Fresnel menjelaskan tentang cahaya dapat mengalami difraksi ( pelenturan ) dan interferensi ( perpaduan ). Berdasarkan eksperimennya, Young dapat mengukur panjang gelombang dari cahaya dan Fresnel dapat menunjukkan bahwa cahaya merambat dalam garis lurus dan juga terdapat efek difraksi yang diamati oleh Grimaldi dan oleh beberapa ahli lainnya.
·           Percobaan Jean Beon Foucault (1819 – 1868). Dari hasil percobaannya ia menemukan bahwa cepat rambat cahaya dalam zat cair lebih kecil dibandingkan dengan cepat rambat cahaya di udara. Hal ini juga bertentangn dengan teori emisi Newton.
·           James Clerk Maxwell ( 1831 – 1879 ). Salah satu kemajuan besara lainnya dalam teori cahaya adalah hasil karya seorang sarjana Skotlandia bernama James Clerk Maxwell. Pada tahun 1873 Maxwell membuktikan bahwa sirkuit listrik yang berosilasi dapat memancarkan gelombang elektromagnetik. Kecepatan rambat gelombang tersebut dapat dihitung berdasarkan ukuran kelistrikan dan kemagnetan, ternyata mendekati 3 × 108 m/s. Dalam batas ketidaktepatan eksperimen, kecepatan gelombang elektromagnetik ini sama dengan kecepatan rambat cahaya yang diperoleh dari hasil pengukuran. Bukti bahwa cahaya terjadi dari gelombang elektromagnetik yang panjang gelombangnya sangat pendek nampaknya tidak dapat disangkal lagi.
·           Heinrich Rudolph Hertz ( 1857 – 1894 ). Ia mengemukakan bahwa gelombang elektromegnetik merupakan gelombang trasversal sehingga dapat menujukkan gejala polarisasi.
·           Pieter Zeeman ( 1852 – 1934 ). Ia mengemukakan bahwa cahaya sangat dipengaruhi oleh medan magnet.
·           Johannes Stark ( 1874 – 1957 ). Ia mengemukakan bahwa medan listrik juga sangat berpengaruh terhadap cahaya meskipun Stark masih berpendapat bahwa gelombang elektromagnetik merambat melalui eter.
·           Albert Abraham Michelson ( 1852 – 1931 ) dan Edward Williams Morley ( 1838 – 1923 ). Kedua ilmuan ini berhasil membuktikan bahwa eter tidak ada. Sehinga dari penemuan mereka, dapat meluruskan pendapat orang – orang bahwa cahaya merambat dalam zat yang disebut eter.
·           Max Karl Ernest Ludwig Planck ( 1858 – 1947 ). Ia mengemukakan bahwa cahaya merupakan paket – paket kecil yang disebut kuanta. Paket kecil ini membawa energy yang dinamakan foton. Sehingga teori ini dikenal dengan teori kuantum cahaya.
·           Albert Einstein ( 1870 – 1955 ) . Ia menjelaskan bahwa cahaya memiliki sifat sebagai partikel dan sekaligus sebagai gelombang. Teori ini dijelaskan dengan teori efek fotolistrik. Jadi, dari penjelasan Einstein, cahaya mempunyai sifat dualisme.
Dari pendapat para ahli di atas, dapat ditarik suatu kesimpulan bahwa cahaya dapat bersifat sebagai partikel dan dapat bersifat sebagai gelombang.
a.        Cahaya sebagai partikel
Newton berpendapat bahwa cahaya terdiri atas partikel – partikel yang sangat kecil dan ringan yang memancar dari sebuah sumber ke segala arah. Adapun alasan yang mendukung teori tersebut adalah sebagai berikut :
1.      Teori partikel menjelaskan bahwa perambatan cahaya berupa garis lurus. Para penganut teori ini tidak sependapat dengan teori yang memandang cahaya sebagai gelombang, karena menurut mereka jika cahaya sebagai gelombang maka semestinya saat bunyi masih terdengar dibalik penghalang atau dibalik tembok maka cahaya pun seharusnya  masih dapat dilihat, tetapi pada kenyataannya cahaya tidak dapat melewati tembok atau penghalang tersebut sehingga cahaya tidak dapat kita lihat. Sehingga, menurut penganut teori partikel cahaya tidak dapat dianggap sebagai gelombang.
2.      Adanya pemantulan cahaya. Jadi, ketika cahaya mengenai permukaan yang halus dan rata seperti cermin, maka cahaya tersebut akan dipantulkan kembali dengan sudut pantul yang sama dengan sudut datang cahaya tersebut. Dengan teori pertikellah pemantulan cahaya dapat dijelaskan.
3.      Selanjutnya Newton memperkuat teorinya lewat pembiasan cahaya. Bahwa kecepatan cahaya di dalam air lebih cepat dibandingkan dengan kecepatan cahaya pada saat melewati udara.
Akan tetapi, pendapat tentang pembiasan cahaya hanya dapat bertahan hingga tahun 1850. Teori partikel akhirnya mengalami kemunduran, hal itu disebabkan ketika pendapat tentang pembiasan cahaya tidak dapat dipertahankan lagi oleh penganut teori partikel. Dengan penemuan seorang ahli fisika Prancis, Leon Foucault (1819 -1868) yang mendemonstrasikan hasil pengukuran kecepatan cahaya dengan berbagai medium. Leon Foucault mendapatkan bahwa kecepatan cahaya dalam medium udara lebih cepat dari pada kecepatan cahaya dalam medium air. Jadi, setelah terungkapnya masalah ini, maka teori partikel setelah tahun 1850 mulai banyak ditinggalkan, dan banyak yang beralih pada teori gelombang.
Suatu bukti yang kuat bahwa cahaya bersifat sebagai partikel, yaitu pada peristiwa Efek Fotolistrik. Efek fotolistrik merupakan gejala ketika seberkas cahaya dikenakan pada permukaan logam, ternyata ada elektron yang keluar dari permukaan logam yang tidak dapat terlihat. Efek fotolistrik dapat diamati pada percobaan yaitu, dua buah pelat logam ( lempengan logam tipis) yang terpisah ditempatkan di dalam tabung hampa udara. Di luar tabung kedua pelat ini dihubungkan satu sama lain dengan kawat. Mula-mula tidak ada arus yang mengalir karena kedua plat terpisah. Ketika cahaya yang sesuai dikenakan kepada salah satu pelat, arus listrik terdeteksi pada kawat. Ini terjadi akibat adanya electron - elektron yang lepas dari satu pelat dan menuju ke pelat lain secara bersama - sama membentuk arus listrik.
Dari hasil pengamatan terhadap gejala efek fotolistrik memunculkan sejumlah fakta yang merupakan karakteristik dari efek fotolistrik. Karakteristik itu adalah sebagai berikut :
1.      Hanya cahaya yang sesuai (yang memiliki frekuensi yang lebih besar dari frekuensi tertentu saja) yang memungkinkan lepasnya elektron dari pelat logam atau menyebabkan terjadi efek fotolistrik (yang ditandai dengan terdeteksinya arus listrik pada kawat). Frekuensi tertentu dari cahaya dimana elektron terlepas dari permukaan logam disebut frekuensi ambang logam. Frekuensi ini berbeda - beda untuk setiap logam dan merupakan karakteristik dari logam itu. Sukar tidaknya elektron terlepas dari logam ketika dikenakan cahaya adalah bergantung pada jenis logam dan frekuensi yang dimiliki oleh cahaya tersebut.
2.      Ketika cahaya yang digunakan dapat menghasilkan efek fotolistrik, penambahan intensitas cahaya dibarengi pula dengan pertambahan jumlah elektron yang terlepas dari pelat logam (yang ditandai dengan arus listrik yang bertambah besar). Tetapi, efek fotolistrik tidak terjadi untuk cahaya dengan frekuensi yang lebih kecil dari frekuensi ambang meskipun intensitas cahaya diperbesar.
3.      Ketika terjadi efek fotolistrik, arus listrik terdeteksi pada rangkaian kawat segera setelah cahaya yang sesuai disinari pada pelat logam. Ini berarti hampir tidak ada selang waktu elektron terbebas dari permukaan logam setelah logam disinari cahaya.
Karakteristik dari efek fotolistrik di atas tidak dapat dijelaskan ketika cahaya dipandang sebagai gelombang. Akan tetapi, karekteristik efek fotolistrik tersebut dapat dijelaskan ketika cahaya dipandang sebagai partikel. Oleh karena itu, diperlukan cara pandang baru dalam mendeskripsikan cahaya dimana cahaya tidak hanya dipandang sebagai gelombang yang dapat memiliki energi yang kontinu melainkan cahaya juga dipandang sebagai partikel.
b.        Cahaya sebagai gelombang
Christian Huygnes berpendapat bahwa cahaya pada dasarnya sama dengan gelombang bunyi, hanya bedanya terdapat pada frekuensi dan panjang gelombang. Huygnes dianggap sebagai penemu gelombang cahaya, lewat teori ini sehingga pemantulan dan pembiasan dapat dijelaskan secara lebih rinci, dan teori gelombang ini dapat pula menjelaskan dengan baik peristiwa difraksi cahaya dan interferensi cahaya. Akan tetapi, teori ini juga masih memiliki kelemahan, yaitu tidak dapat menjelaskan mengenai perambatan cahaya berupa garis lurus.
Sebagai gelombang, cahaya memiliki sifat –sifat di antaranya dapat merambat. Bagaimana bentuk perambatan cahaya ? Perhatikan ketika cahaya masuk melalui lubang angin di rumahmu, cahaya akan terlihat merambat dengan membentuk garis lurus dan kelihatan jelas ketika rumah tersebut berdebu. Selain itu, pernahkah anda memperhatikan ketika cahaya masuk melalui celah – celah sempit di rumahmu yang gelap, terlihat bahwa cahaya merambat membentuk garis lurus.
Sekitar tahun 60 yang lalu, telah diperlihatkan bahwa cahaya berprilaku seperti gelombang. Tetapi tak seorang pun tahu apa jenis gelombangnya. Maxwell, yang didasarkan oleh perhitungan kecepatan gelombang EM, mengatakan bahwa cahaya pasti merupakan gelombang elektromagnetik. Gagasan ini segera diterima luas oleh ilmuwan, tetapi tidak sepenuhnya hingga gelombang EM terdeteksi secara eksperimental.  Gelombang EM pertama kali dibangkitkan dan dideteksi secara eksperimental oleh Heinrich Hertz ( 1857 – 1894 ) di    tahun 1887, delapan tahun setelah Max Well meninggal. Hertz menggunakan perangkat celah bunga api dimana muatan digerakkan bolak - balik dalam waktu singkat, sehingga membangkitkan gelombang berfrekuensi sekitar 109 Hz. Ia mendeteksi gelombang tersebut dari suatu kejauhan dengan menggunakan loop kawat yang bisa membangkitkan GGL jika padanya terjadi perubahan medan magnet. Gelombang ini kemudian dibuktikan merambat dengan laju cahaya, 3 × 108 m/s, dan menunjukkan seluruh karakteristik cahaya seperti pemantulan, pembiasan, dan interferensi. Satu – satunya perbedaan adalah gelombang ini tidak terlihat. Eksperimen Hertz sangat memperkuat teori Maxwell.
Sifat – sifat gelombang pada cahaya
·         Dispersi cahaya
Saat hujan gerimis pada sore hari, di langit sebelah timur terkadang terlihat pelangi. Mangapa dapat terjadi pelangi ?
Semua sudah mengetahui bahwa suatu gelombang akan mempunyai kecepatan rambat yang tidak sama pada medium berbeda. Hal inilah yang menyebabkan cahaya mangalami dispersi. Warna cahaya berhubungan dengan panjang gelombang atau frekuensi dari cahaya itu sendiri. Telah diketahui bahwa cahaya putih terdiri dari berbagai warna cahaya. Hal itu dapat diketahui ketika cahaya tersebut melewati sebuah prisma. Sebuah prisma memisahkan cahaya putih menjadi bermacam – macam warna, hal ini terjadi karena indeks bias materi bergantung pada panjang gelombang. Cahaya putih merupakan campuran dari semua panjang gelombang yang tampak, dan ketika jatuh pada prisma panjang – panjang gelombang yang berbeda tersebut dibelokkan dengan derajat yang berbeda – beda. Karena indeks bias akan lebih besar untuk panjang gelombang yang lebih pendek, maka cahaya ungu dibelokkan paling jauh dan cahaya merah dibelokkan paling sedikit. Peruraian  cahaya putih menjadi berbagai macam warna ini disebut dengan dispersi cahaya.
·         Interferensi cahaya
Peristiwa interferensi cahaya hanya dapat dijelaskan jika cahaya dipandang sebagai gelombang, bukan sebagai partikel. Oleh karena itu, teori korpuskuler Newton tidak dapat menjelaskan peristiwa interferensi cahaya.
Pada tahun 1801, seorang ilmuan berkebangsaan Inggris, Thomas Young ( 1773 – 1829 ), mendapatkan bukti yang meyakinkan untuk sifat gelombang dari cahaya dan bahkan bisa mengukur panjang gelombang untuk cahaya tampak. Dari eksperimen celah ganda Young, yaitu pertama cahaya dari suatu sumber ( Young menggunakan cahaya matahari ) jatuh pada layar dimana terdapat dua celah yang berdekatan yaitu s1 dan s2 . Jika cahaya terdiri dari partikel – partikel kecil, kita mungkin berharap melihat dua garis yang terang pada layar yang diletakkan di belakang celah. Tetapi, percobaan yang telah dilakukan Young berbeda dengan anggapan kita pada umumnya, pada percobaan tersebut Young melihat serangkaian garis yang terang yang jumlahnya banyak, lebih dari dua buah garis. Young bisa menjelaskan hasil ini sebagai fenomena interferensi gelombang. Untuk memahami ini, bayangkan cahaya gelombang datar dengan panjang gelombang tunggal ( monokromatik atau satu warna ) jatuh pada kedua celah kecil. Karena difraksi, gelombang yang meninggalkan kedua celah kecil tersebut menyebar sehingga garis terang yang terbentuk pada layar jumlahnya banyak ( lebih banyak dari jumlah celah ). Hal ini ekivalen dengan pola interferensi yang dihasilkan ketika dua batu dilemparkan ke danau atau ketika suara dari dua loundspeaker berinterferensi.
Peristiwa interferensi cahaya akan terjadi jika dua berkas cahaya yang monokromatis dan koheren bertemu pada satu titik. Dua berkas cahaya dikatakan koheren jika fasenya sama. Pada peristiwa interferensi cahaya, apabila selisih lintasan dua berkas cahaya sama dengan satu panjang gelombang (  ) atau kelipatannya ( k λ ), kedua berkas itu akan saling memperkuat jika bertemu pada suatu titik. Sebaliknya, apabila selisih lintasan sama dengan setengah panjang gelombang ( ½ λ ) atau kelipatannya ( k + ½ λ ), dua berkas cahaya tersebut akan saling memperlemah jika bertemu pada satu titik. Peristiwa interferensi dapat dibagi menjadi 3, yaitu :
1.      Interferensi melalui dua celah sempit
Interferensi cahaya memerlukan gelombang cahaya yang koheren. Untuk memperoleh dua sumber gelombang cahaya yang monokromatik dan koheren, dilakukan dengan cara melewatkan satu sumber gelombang cahaya monokromatik melalui dua celah sempit. Dengan demikian, kedua celah sempit itu menjadi dua sumber gelombang cahaya monokromatik yang koheren.
Gambar : interferensi melalui dua celah sempit ( percoabaan Young )
2.      Interferensi cahaya pada lapisan tipis
Gambar : interferensi pada lapisan tipis
Pernahkah anda mengamati warna – warna pada gelembung air sabun, atau lapisan minyak pada permukaan air ? Pada gelembung – gelembung air sabun dan minyak pada permukaan air terdapat warna warna, warna – warna tersebut terbentuk karena adanya peristiwa interferensi cahaya pada lapisan tipis.
Perhatikan gambar di atas, ketika adanya sinar datang yang mengenai lapisan A, sinar tersebut kemudian dipantulkan dan sebagian lagi dibiaskan. Setelah sampai di B, sinar bias itu dipantulkan sehingga mengenai C. Di titik C, sinar itu dibiaskan ke udara. Jika sinar yang dibiaskan oleh titik C berinterferensi di P, terjadilah titik terang atau gelap di titik itu.
3.      Cincin Newton
Newton merupakan ilmuan yang luar biasa, dalam bidang optic ia memberikan sumbangan yang sangat besar dengan cincin Newton. Jika sebuah lensa plankonveks diletakkan di atas keping kaca datar, lapisan udara yang ada di antara lensa dan kaca datar dapat dipandang sebagai lapisan tipis. Apabila lapisan udara tipi situ dikenai sinar sejajar monokromatik, akan terbentuklah lingkaran – lingkaran ( cincin – cincin ) gelap dan terang yang selanjutnya dinamakan cincin Newton.
·         Difraksi cahaya
Difraksi cahaya dapat dikatakan yaitu peristiwa pembelokan atau pelenturan cahaya akibat melalui celah sempit.
1.      Difraksi cahaya melalui satu celah sempit
Pola difraksi cahaya terjadi akibat adanya interferensi cahaya. Interferensi cahaya maksimum menghasilkan pola yang terang, sedangkan interferensi minimum menghasilkan pola gelap pada layar. Pola difraksi celah tunggal tidak setajam pola difraksi celah ganda. Pola difraksi celah ganda, pada garis terang yang berada di tengah terdapat garis – garis gelap yang lebih tajam.
Manurut teori gelombang Huygens, pola difraksi terjadi karena tepi celah dapat berperan sebagai sumber gelombang baru.
Sebagian sejarah teori gelombang untuk cahaya merupakan milik Augustin Fresnel ( 1788 – 1827 ), dimana pada tahun 1819 ia mengemukakan pada Akademi Perancis sebuah teori gelombang untuk cahaya yang meramalkan dan menjelaskan efek – efek interferensi dan difraksi. Tidak begitu lama sesudah Simeon Poisson ( 1781 – 1840 ) menunjukkan kesimpulan yang kontraintuitif. Menurut teori gelombang Fresnel, jika cahaya dari satu titik sumber jatuh pada piringan yang padat, maka cahaya yang didifraksikan sekitar pinggirnya akan berinterferensi konstruktif di pusat bayangan. Ramalan ini tampaknya tidak mungkin. Tetapi ketika eksperimen benar – benar dilakukan oleh Francois Arago, bintik terang tersebut tampak tepat di tengah bayangan, ini merupakan bukti yang kuat dari teori gelombang.
Untuk memahami bagaimana pola idfraksi timbul, harus dilakukan analisa mengenai kasus penting dari cahaya monokromatik yang melewati celah sempit. Kita akan menganggap bahwa berkas – berkas paralel dari cahaya jatuh pada celah yang lebar, dan layar diletakkan cukup jauh. Sebagaimana kita ketahui dari studi mengenai gelombang air dan dari prinsip Huygens, gelombang yang melewati celah menyebar kesemua arah. Dan ternyata gelombang yang melewati bagian yang berbeda dari celah tersebut saling berinteraksi. Dimana, berkas – berkas paralel dari cahaya monokromatik melewati selah sempit. Cahaya jatuh pada layar yang dianggap sangat jauh, sehingga berkas untuk bintik manapun sebenarnya paralel.
2.      Difraksi melalui celah majemuk ( kisi difraksi )
Telah diketahui sebelumnya bahwa pola difraksi ( garis terang dan gelap ) pada layar tersebut terbentuk karena adanya interferensi cahaya yang terdifraksi. Anda dapat membandingkan pola difraksi atau interferensi dari hasil difraksi satu celah dengan dua celah. Dimana pola difraksi dua celah lebih tajam dibandingkan dengan pola difraksi celah tunggal, sehingga pemisahan atau perbedaan panjang gelombang cahaya terlihat lebih jelas. Anda dapat melakukan percobaan yang sederhana yaitu, dengan membuat celah difraksi pada kaca bening tipis. Jika digores dengan intan yang sangat tajam menurut garis – garis sejajar yang sangat berdekatan dengan jarak yang sama, pada kaca bening tipis akan terbentuk celah – celah difraksi yang disebut dengan kisi difraksi.
Analisis kisi difraksi sangat mirip dengan eksperimen celah ganda Young. Kita menganggap berkas – berkas cahaya paralel jatuh pada kisi. Kita juga menganggap bahwa celah – celah tersebut cukup sempit sehingga difraksi oleh masing – masingnya menyebarkan cahaya dengan sudut yang sangat besar pada layar yang jauh di belakang kisi, dan interferensi dapat terjadi dengan cahaya dari semua celah yang lain . Berkas cahaya yang melalui setiap celah tanpa pembelokan sudutnya adalah 00 berinterferensi konstruktif untuk menghasilkan garis terang di tengah layar. Interferensi konstruktif juga dapat terjadi pada sudut ө sedemikian rupa sehingga berkas dari celah yang bersisian menempuh jarak ekstra jauh Δl = mλ, dimana  m  merupakan bilangan bulat.
Untuk pola difraksi pada  celah ganda dengan banyak celah terdapat perbedaan yaitu, maksima yang  terang lebih tajam dan sempit untuk kisi. Mengapa demikian ? Hal itu disebabkan karena sudut ө diperbesar sedikit di atas yang dibutuhkan untuk maksimum. Pada celah ganda, kedua gelombang hanya sedikit berbeda fase, sehingga terjadi interferensi yang hampir konstruktif, ini berarti bahwa maksimum akan lebar. Untuk kisi, gelombang – gelombang dari dua celah yang bersisian juga akan tidak terlalu berbeda fase. Tetapi gelombang dari satu celah dan gelombang lain dari yang kedua yang berjarak beberapa ratus celah bisa tepat berlawanan fase. Hampir semua cahaya akan saling meniadakan dengan cara ini.
·         Polarisasi cahaya
Menurut arah getarnya, cahaya merupakan gelombang transversal. Satu gejala yang hanya dimiliki oleh gelombang transversal, yaitu polarisasi ( pengutupan ). Polarisasi cahaya dapat terjadi karena peristiwa penyerapan, pemantulan, dan pembiasan.
1.      Polarisasi karena penyerapan
Untuk menunjukkan bahwa cahaya merupakan gelombang transversal, diperlukan alat yang disebut Polaroid. Polaroid merupakan benda bening yang dapat dilalui gelombang dengan arah getar tertentu. Paraloid dapat digunakan sebagai alat polarisasi untuk menghasilkan cahaya terpolarisasi bidang dari cahaya yang tidak terpolarisasi, karena hanya komponen cahaya yang paralel dengan sumbu yang ditransmisikan. Palaroid juga dapat digunakan sebagai penganalisis untuk menentukan apakah cahaya terpolarisasi dan apa bidang polarisasinya. Polaroid yang berfungsi sebagai penganalisis akan melewatkan sejumlah cahaya yang sama dengan tidak bergantung pada orientasi sumbunya jika cahaya tidak terpolarisasi.
Cahaya yang tidak terpolarisasi terdiri dari cahaya dengan arah polarisasi yang acak. Masing – masing arah polarisasi ini dapat diuraikan menjadi komponen sepanjang dua arah yang saling tegaklurus. Dengan demikian, berkas cahaya yang tidak terpolarisasi dapat dianggap sebagai dua berkas terpolarisasi bidang dengan besar yang sama dan tegaklurus satu sama lain.





2.      Polarisasi karena pemantulan
 
Gambar : polarisasi cahaya pada medium yang lebih rapat
Jika cahaya mengenai zat yang lebih rapat daripada medium sebelumnya, misalnya cermin, kaca, dan air maka cahaya akan terpantul. Pada sudut pantul tertentu, cahaya mengalami polarisasi yang disebut dengan sudut polarisasi. Untuk menunjukkan cahaya terpolarisasi karena pemantulan, dapat digunakan pesawat Norrenberg yang terdiri atas dua cermin.
3.      Polarisasi karena pembiasan
Pembiasan yang dapat memolarisasikan  cahaya natural adalah pembiasan ganda oleh zat hablur. Dalam hal ini, sinar biasnya merupakan cahaya terpolarisasi. Hablur atau bahan yang dapat membentuk pembiasan ganda dapat dibentuk menjadi prisma. Dua prisma dari bahan itu dapat digabung menjadi satu dengan bahan perekat. Prisma gabungan ini dinamakan nikol. Jika cahaya natural masuk ke dalam nikol, cahaya yang keluar merupakan cahaya yang terpolarisasi. Nikol dapat digunakan sebagai polarisator dan analisator.
Setelah masuk ke polarisator dan analisator, cahaya akan padam. Akan tetapi, apabila di antara polarisator dan analisator diberi zat optik aktif ( misalnya larutan gula ), maka cahaya akan terlihat lagi. Jika analisator diputar ke kanan atau ke kiri sampai cahaya terpolarisasi tidak tampak lagi, zat tersebut dikatakan dapat memutar bidang polarisasi sebesar sudut putar itu.
Dari uraian – uraian di atas, kita dapat mengetahui bahwa jika cahaya dipandang sebagai gelombang, maka akan memunculkan beberapa sifat – sifat dari gelombang pada cahaya tersebut. Selanjutnya, kita akan membahas tentang perhitungan laju cahaya. Bagaimana menghitung laju cahaya ? Uraian di bawah ini akan menjawab pertanyaan tersebut. 
Menghitung laju cahaya
Usaha serius pertama untuk mengukur laju cahaya dilakukan oleh Galileo dengan mencoba mengukur waktu yang dibutuhkan cahaya untuk menempuh lintasan tertentu antara dua puncak bukit, yang jaraknya telah diketahui. Ia menempatkan seorang asisten di atas puncak, dan dia sendiri berada di puncak yang lain, dan memerintahkan asistennya untuk mengangkat tutup lampu pada saat ia melihat cahaya dari lampu Galileo. Galileo menghitung waktu saat ia mengirimkan cahaya dan saat ia menerima cahaya dari lampu asistennya. Waktu yang terukur demikian singkat sehingga Galileo menyimpulkannya lebih sebagai waktu reaksi manusia, dan bahwa laju cahaya pasti sangat tinggi.
Keberhasilan pertama dalam memastikan bahwa laju cahaya itu berhingga dibuat oleh seorang astronom Denmark, Ole Roemer ( 1644 – 1710 ). Roemer mencatat bahwa pengukuran yang seksama terhadap periode Io, salah satu satelit Jupiter ( periode rata – ratanya 42,5 jam untuk mengorbit Jupiter satu kali ), mengalami perubahan kecil, tergantung pada gerakan relatif antara bumi dan Jupiter. Ketika bumi bergerak menjauhi Jupiter, periode satelit tersebut sedikit lebih panjang, dan ketika bumi bergerak mendekati Jupiter, periode satelit tersebut sedikit memendek. Ia mencatat perbedaan ini sebagai tambahan waktu yang dibutuhkan cahaya untuk menempuh pertambahan jarak ke bumi pada saat bumi bergerak menjauh, atau sebagai perpendekan waktu tempuh cahaya ketika kedua planet tersebut saling mendekat. Roemer menyimpulkan bahwa laju cahaya itu walaupun sangat besar tetapi terhingga atau mempunyai batas tertentu.
Sejak itu sejumlah teknik digunakan untuk mengukur laju cahaya. Yang terpenting di antaranya adalah yang digunakan oleh ilmuwan Amerika, Albert A. Michelson ( 1852 – 1931 ). Michelson menggunakan perangkat cermin putar untuk melakukan serentetan eksperimen berketelitian tinggi yang dilakukannya dari tahun 1880 hingga 1920-an. Cahaya dari suatu sumber diarahkan ke salah satu permukaan cermin putar bersegi delapan. Cahaya pantul merambat menuju cermin diam yang berada pada jarak yang jauh dan kembali lagi. Jika cermin putar tersebut berputar dengan kelajuan yang tepat, berkas sinar baliknya akan dipantulkan oleh salah satu permukaan cermin menuju teleskop kecil tempat pengamat. Jika kecepatan putaran berbeda sedikit saja, cahaya akan menyimpang dan tidak terlihat oleh pengamat. Dari kecepatan yang diperlukan oleh cermin putar dan jarak terhadap cermin diam, laju cahaya dapat dihitung. Di tahun 1920-an, Michelson memasang cermin putar tersebut di puncak gunung Wilson di Kalifornia Selatan dan cermin diamnya diletakkan di gunung Baldy yang berjarak 35 km. Kemudian ia mengukur laju cahaya di dalam ruang hampa dengan menggunakan tabung hampa yang panjang.
Nilai yang diterima saat ini untuk laju cahaya ( c ) di ruang hampa adalah :
c = 3 × 108 m/s
Jika kita tidak membutuhkan hasil dengan ketelitian ekstrim. Di udara kecepatannya hanya berkurang sedikit sekali.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar