Senin, 05 Januari 2015

FAKTOR INTERNAL yang mempengaruhi proses belajar



BAB II
PEMBAHASAN
A.    Faktor Intern
Pada faktor intern ini akan di bahas mengenai kecerdasan intelektual (IQ), kecerdasan emosional (EQ), dan kecerdasan spiritual (SQ). Dimana bukan hanya ada tiga faktor saja yang mempengaruhi belajar dalam faktor intern melainkan terdapat juga tiga faktor yang lain yakni adalah faktor jasmaniah, faktor psikologi dan faktor kelelahan.
1.      Kecerdasaan Intelektual (IQ)
Kecerdasaan Intelektual (IQ) merupakan kecerdasan dasar yang berhubungan dengan proses kognitif, pembelajaran (kecerdasan intelektual) cenderung menggunakan kemampuan matematis-logis dan bahasa, pada umumnya hanya mengembangkan kemampuan kognitif (menulis, membaca, menghafal, menghitung, dan menjawab). Kecerdasan ini di kenal dengan kecerdasan rasional karena menggunakan potensi rasio dalam memecahkan masalah, penilaian kecerdasan dapat di lakukan melalui tes atau ujian daya ingat, daya nalar, penguasaan kosa kata, ketepatan meghitung, mudah menganalisis data. Dengan ujian tersebut dapat dilihat tingkat kecerdasan intelektual seseorang.
Kecerdasan intelektual atau intelligence Quotient (IQ) muncul sejak dalam kehidupan keluarga dan masyarakat, sejak anak di dalam kandungan sampai tubuh menjadi dewasa. Kecerdasan intelektual (intelegensi) merupakan aspek psikologi yang dapat mempengaruhi kuantitas dan kualitas seseorang dalam perolehan pembelajaran. 
Kecerdasan intelektual (IQ) pada umumnya dapat di artikan sebagai kemampuan psiko-fisik untuk mereaksikan ransangan aatau diri dengan lingkungan dengan cara yang tepat. Semenjak zaman pencerahan yang mengagungkan kemajuan ilmu pengetahuan sebagai lambang kemajuan peradaban, intelegensi naik daun dan di anggap sebagai prediktor utama kesuksesan, bahkan mungkin satu-satunya. Sehingga salah kaprah terhadap konsep IQ dan terjadi pemberhalaan (IQ). Sering terjadi pertukaran konsep di kalangan awam antara intelegensi dan IQ.
Intelegensi adalah sebuah konsep yang dioperasionalkan dengan suatu alat ukur, dan keluaran dari alat ukur inilah yang di berupa IQ. Angka yang keluar adalah angka berdasarkan satuan tertentu. Semacam gram untuk berat dan meter untuk jarak. Konsep inilah yang harus diluruskan agar tidak menimbulkan beragam penafsiran, jadi IQ adalah satuan ukur.
Sesuai dengan berjalannya zaman, manusia mulai menyadari bahwa faktor emosi tidak kalah pentingnya dalam mendukung sebuah kesuksesan, bahkan di pandang lebih penting dari pada intelegensi. Demikian pula penerapannya dalam kehidupan organisasi, intelegensi tidak lagi dianggap satu-satunya faktor yang menentukan kinerja seseorang. Dalam konsep kompetensi faktor-faktor seperti motivasi, kepemimpinan mendapat perhatian yang signifikan. (Iskandar. 2012 : 58)
2.      Kecerdasan Emosi (EQ)
Istilah kecerdasan emosional pertama kali di lontarkan pada tahun 1990 oleh psikolog Peter Salovey dari Harvard University dan Jhon Meyer dari University of New Hampshire. (Aunurrahman. 2012 : 85)
Daniel Goleman melalui bukunya yang terkenal (Emotional Intellegence) atau kecerdasan emosional. Goleman mencoba memberi tekanan pada aspek kecerdasan intra-personal atau antar pribadi. Inti dari kecerdasan ini adalah mencakup kemampuan untuk membedakan dan menanggapi dengan tepat suasana hati, temperamen, motivasi, hasrat antar-pribadi ini lebih menekankan terhadap aspek kognisi atau pemahaman. Sementara faktor emosi atau perasaan kurang di perhatikan. Padahal menurut Goleman, faktor emosi ini sangat penting dan memberikan suatu warna yang kaya dalam kecerdasan antar-pribadi ini. (Iskandar. 2012 : 59)
Tokoh-tokoh seperti Sternberg, Baron dan Salovey sebagimana di ungkapkan oleh Goleman di sebutkan ada lima kecerdasan pribadi dalam bentuk kecerdasan emosional, yaitu :
a.       Kemampuan mengenali emosi diri
Kemampuan mengenali emosi diri merupakan kemampuan seseorang dalam mengenali perasaannya sendiri sewaktu perasaan atau emsosi itu muncul. Ini sering di katakan sebagai dasar dari kecerdasan emosional. Seseorang yang mampu mengenali emosinya sendiri ialah bila ia mampu mengenali kepekaaan yang tajam atas perasaan mereka yang sesungguhnya dan kemudian mengambil keputusan-keputusan secara mantap.  Misalnya sikap yang di ambil dalam  menentukan berbagai piliha, seperti memiliki sekolah, sahabat, pekerjaan sampai kepada pemilihan pasangan hidup.
b.      Kemampuan mengelola emosi
Kemampuan mengelola emosi merupakan kemampuan seseorang untuk mengendalikan perasaanya sendiri sehingga sehingga tidak meledak dan akhirnya dapat mm=empengaruhi perasaanya secara salah. Misalnya seseorang yang sedang marah, maka kemarahan itu tetap dapat di kendalikan secara baik tanpa harus menimbulkan akibat yang akahirnya disesali di kemudian hari.
c.       Kemampuan memotivasi diri
Kemampuan memotivasi diri merupakan kemampuan untuk memnerikan semangat kepada diri sendiri untuk melakukan sesuatu yang baik daan bermanfaat.dalam hal ini terkandung adanya unsur harapan dan optimisme yang tinggi sehingga seseorang memiliki kekuatan semangat untuk melakukan aktifitas tertentu. Misalnya dalam bekerja, belajar, menolong irang lain dan sebagainya.
d.      Kemampuan mengenali emosi oarang lain (Empati )
Kemampuan mengenali emosi orang lain (empati) merupakan kemampuan untuk mengerti parasaan dan kebutuhan orang lain, sehingga orang lain akan merasa senang dan dimengerti perasaannya. Anak-anak yang memiliki kemampuan ini, yaitu sering pula disebut sebagai kemampuan berempati, mampu menangkap pesan non verbal dan orang lain : nada bicara, gerak-gerik maupun ekspresi wajah dari orang lain tersebut. Dengan demikian anak-anak ini akan cenderung disukai orang.
e.       Kemampaun membina hubungan sosial
Kemampaun membina hubungan sosial adalah kemampuan mengelola emosi orang lain, sehingga tercipta keterampilan sosial yang tinggi dan membuat pergaulan seseorang jadi luas. Anak-anak dengan kemampuan ini cenderung memppunyai  banyak teman, pandai bergaul dan cenderung menjadi lebih populer. (Iskandar. 2012 : 60)
Maka disini dapat kita simpulkan betapa pentingnya kecerdasan emosional dikembangkan pada diri siswa (peserta didik). Karena begitu banyak kita jumpai siswa, dimana mereka begitu cerdas di sekolah, begitu cemerlang prestasi akademisnya, namun apabila mereka tidak dapat mengelola emosinya seperti mudah marah, mudah putus asa, angkuh dan sombong, maka prestasi tersebut tidak akan banyak bermanfaat bagi dirinya. Ternyata kecerdasan emosional perlu lebih di hargai dan di kembangkan pada siswa (peserta didik) sedini mungkin dari tingkat pendidikan usia dini sampai ke perguruan tinggi.  Karena hal inilah  yang mendasari keterampilan seseorang di tengah masyarakt kelak, sehingga akan membuat potensinya dapat berkemabang dengan lebih optimal.
Kecerdasan emosi berkaitan dengan pemahaman diri dan orang lain, beradaptasi dan menghadapi lingkungan sekitar, dan penyesuaian secara cepat agar lebih berhasil dalam menghadapi tuntutan lingkungan.
Bagaimana cara kita meningkatkan kecerdasan emosi?
a.       Membaca situasi dengan memperhatikan situasi sekitar anda, anda akan memperhatikan situasi sekitar.
b.      Mendengarkan dan menyimak lawan bicara anda yang selalu merasa benar punya kecendrungan untuk tidak mendengar kata orang lain. Luangkan waktu untuk melakukannya, maka anda akan tahu apa yang sebenarnya terjadi.
c.       Siap berkomunikasi jurus ini memang paling ampuh. Lakukan komunikasi biarpun pada situasi sulit.
d.      Tak usah takut ditolak adakalanya orang ragu-ragu bertindak karena takut di tolak orang lain. Sebelum berinisiatif, sebenarnya anda Cuma punya dua pilihan : di terima atau ditolak. Jadi, siapkan saja diri anda yang penting usaha.
e.       Mencoba berempati EQ tinggi biasany didapati pada orang-orang yang mampu berempati atau mengehentikan situasi yang di hadapi orang lain. Caranya, apalagi kalau bukan mendengarkan dengan baik?
f.       Pandai memilih prioritas ini perlu supaya anda bisa memilih perkerjaan yang mendesak, dan apa yang bisa ditunda.
g.      Siap mental sikap mental tempe itu sudah ketinggalan zaman. Situasi apapun yang akan di hadapi, anda mesti menyiapkan mental sebelumnya. Ingat, tidak ada kesukaran yang tidak dapat ditangani. Paling tidak, anda sudah berusaha.
h.      Ungkapkan lewat kata-kata bagaimana orang bisa membaca pikiran anda kalau anda diam seribu bahasa? Ungkapkan pikiran anada lewat kata-kata yang jelas.
i.        Bersikap rasional betul, kecerdasan emosi berhubungan denga perasaan tetapi, tetap memerlukan pola pikiran yang rasional, apalagi dalam pekerjaan.
j.        Fokus konsentrasi diri anda pada suatu masalah yang perlu mendapat perhatian. Janagn memaksa diri melakukan dalam 4-5 masalah secara bersamaan. 2 atau 3 mungkin maasih  bisa di tangani, tapi lebih dari itu, anda bisa kehabisan energi.
( Iskandar. 2012 : 64)
3.      Kecerdasan Spritual atau Spritual Quotient (SQ)
Kecerdasan spritual (SQ) merupakan kemampuan individu terhadap mengelola nilai-nilai, norma-norma dan kualitas kehidupan dengan memanfaatkan kekuatan pikiran bawah sadar atau lebih dikenal dengan suara hati (God Spot).
Sebagaimana firman Allah SWT, yang artinya : “Tidakkah mereka melakukan perjalanan dimuka bumi, sehingga mereka mempunyai hati dengan itu merasa, dan mempunyai telinga dan dengan itu mereka mendengar? Sungguhnya bukan matanya yang buta, tetapi yang buta adalah hatinya, yang ada dalam (rongga) dadanya.” (QS. Al-Hajj : 46).
Kecerdasan spiritual disini bermakna bahwa seseorang individu yang ridho dan memiliki rasa tanggung jawab kepada sang pencipta serta kemampuan menghayati nilai-nilai agama. Keridhoan dapat diartikan sebagai kemampuan seseorang untuk menerima dengan hati yang rela peraturan-peraturan yang telah digariskan oleh agama. Tanggung jawab pada sang pencipta dapat membantu seseorang individu untuk terus belajar dan bekerja tanpa rasa jemu. Allah membimbing dengan siapa yang mengikuti keridhoan-Nya melalui jalan-jalan keselamatan, dan membawa mereka dengan izin-Nya keluar dari kegelapan menuju cahaya. Berdasarkan firman Allah yang berbunyi : “ Sesungguhnya aku ciptakan jin dan manusia adalah untuk beribadah kepada KU” (QS. Al-Maidah : 16).
Kecerdasan spiritual yang memadukan antara kecerdasan intelektual dan emosional menjadi syarat penting agar manusia lebih memaknai hidup dan menjalani hidup pebuh berkah. Terutama, pada masa sekarang, di mana manusia modern terkadang melupakan mata hati dalam melihat segala sesuatu.
Manusia modern adalah manusia yang mempunyai kualitas intelektual yang memada, karena telah menempuh pendidikan yang memadai pula. Salah satu ciri yang kental dalam diri manusia modern adalah suka membaca. Hal ini sejalan dengan syariat Islam, dimana syariat pertamanya membaca. Namun terkadang kualitas intelektual tersebut terkadang tidak di barengi dengan kualitas iman atau emosional yang baik, sehingga berkah yang di harapkan setiap manusia dalam hidupnya tidak dapat di peroleh.
Untuk itu setiap manusia perlu mendapatkan suatu pelatihan dan pemahaman tentang kecerdasan emosi (EQ), dengan tujuan untuk menciptakan manusia yang memiliki karakter tangguh, jujur, bijaksana, pengertian, dan beriman. Setiap manusia perlu mengetahui dan memaknai bahwa kecerdasan spiritual justru mampu meningkatkan kemampuan EQ disamping IQ sehingga terjadi momentum peningkatan harkat kehidupan yang berjalan sepanjang hidup.
Berbagai penelitian mengenai tubuh manusia bahkan membuat kita lebih terpesona lagi akan kebesaran Tuhan Allah SWT dalam menciptakan manusia. Sebagaimana ciptaan yang sempurna ini bekerja, berfikir, dam bergerak , menganalisa dan mengambil keputusan, memunculkan berbagai gagasan yang indah dan juga hebat, hingga manusia ini bisa berhasil dan terkenal, berkemampuan logika maupun spiritual, mempunyai emosi (IQ, EQ, SQ) yang bila digunakan ke arah positif akan memberi suatu hikmah pencapaian yang luar biasa. (Iskandar. 2012 : 68)
Selain dari faktor di atas, terdapat juga faktor intern yang lain dan akan di bahas menjadi tiga faktor yakni adalah faktor jasmaniah, faktor psikologi dan factor kelelahan.
a.       Faktor Jasmaniah
1)      Faktor Kesehatan
Sehat berarti dalam keadaan baik segenap badan beserta bagian-bagiannya atau bebas dari penyakit, kesehatan adalah keadaan atau hal sehat, kesehatan seseorang berpengaruh terhadap belajarnya.
Proses belajar seseorang akan terganggu jika kesehatan seseorang terganggu, selain itu akan cepat lelah, kurang semangat mudah pusing, ngantuk jika badannya lemah kurang darah ataupun ada gangguan-gangguan atau kelainan-kelainan fungsi alat indranya serta tubuhnya.
Agar seseorang dapat belajar dengan baik haruslah mengusahakan kesehatan badannya tetap terjamin dengan cara selalu mengindahkan ketentuan-ketentuan tentang bekerja, belajar, istirahat, tidur, makan, olah raga, ibadah.
2)      Cacat Tubuh
Cacat tubuh adalah sesuatu yang menyebabkan kuarang baik atau kurang sempurna mengenai tubuh atau badan.
Cacat itu dapat berupa buta, setengah buta, tuli, setengah tuli, patah kaki, dan patah tangan, lumpuh dan lain-lain. Keadaan cacat tubuh juga akan mempengaruhi belajar. Siswa yang cacat belajarnya akan terganggu. Jika hal ini terjadi, hendaknya ia belajar pada lembaga pendidikan khusus atau diusahakan alat bantu agar dapat menghindari atau mengurangi pengaruh kecacatannya.
b.      Faktor Psikologi
Sekurang-kurangnya ada tujuh faktor yang tergolong ke dalam faktor psikologis yang mempengaruhi belajar. Faktor-faktor itu adalah : intelegensi, perhatian, minat, bakat, motif, kematangan , dan kesiapan.
1)      Intelegensi
Untuk memberikan pengertian tentang intelegensi, JP Chaplin merumuskan sebagai berikut :
a)      The ability to meet adapt to novel situations quickly and effectively.
b)      The ability to utilize abstract concepts effectively.
c)      The ability to grasp realitionship and to learn quickly.
Jadi intelegensi itu adalah kecakapan yang terdiri dari tiga jenis yaitu kecakapan untuk mengahadapi dan menyesuaikan ke dalam situasi yang baru dengan cepat dan efektif, mengetahui atau menggunakan konsep-konsep yang abstrak secara efektif, mengetahui relasi dan mempelajarinya dengan cepat. (Daryanto. 2010 : 37)
Intelegensi besar pengaruhnya terhadapa kemajuan belajar dalam situasi yang sama, siswa yang mempunyai tingkat intelegensi yang tinggi akan lebih berhasil dari pada yang mempunyai tingkat intelegensi yang rendah, walaupun begitu siswa yang mempunyai intelegensi tinggi belum pasti berhasildalam belajarnya. Hal ini di sebabkan karena belajar adalah suatu proses yang kompleks dengan banyak faktor yang mempengaruhinya, sedangkan intelegensi adalah  salah satu factor di atas factor yang lainnya. Jika factor yang lain bersifat menghambat atau berpengaruh negative terhadap belajar akhirnya siswa gagal dalam belajarnya, siswa yang mempunyai tingkat intelegensi yang normal dapat berhasil dengan baik dalam belajar, jika ia belajar dengan baik artinya belajar dengan menerapkan metode belajar yang efisien dan dan factor-faktor yang mempengaruhi belajar (faktor jasmaniah, psikologi, keluarga, sekolah, masyarakat) memberi pengaruh yang positif. Jika siswa memiliki intelegensi yang rendah, ia perlu mendapat pendidikan dilembaga pendidikan khusus.
2)      Perhatian
Perhatian menurut Gazali adalah keaktifan jiwa yang dipetinggi, jiwa itupun semata-mata tertuju kepada suatu objek (benda atau hal) atau sekumpulan obyek. Unutk dapat menjamin hasil belajar yang baik, maka siswa harus mempunyai perhatian terhadap bahan yang dipelajari jika bahan pelajaran tidak mnejadi perhatian siswa maka timbullah kebosanan, sehingga ia tidak lagi sua belajar. Agar siswa dapat belajar denan baik, usahakanlah bahan pelajaran selalu menarik perhatian dengan cara mengusahakan pelajaran itu sesuai dengan hobi atau bakatnya. (Daryanto. 2010 : 37)
3)      Minat
Hilgard memberi rumusan tentang minat adalah sebagai berikut :
“Interes is persisting tendency to pay attention to and enjoy same activity or content.” (Daryanto. 2010 : 38)
Minat adalah kecendrungan  yang tetap untuk memperhatikan dan mengenang beberapa kegiatan. Kegiatan yang diminati seseorang diperhatikan terus menerus yang disertai dengan rasa senang. Jadi, berbeda dengan perhatian, karena perhatian sifatnya sementara (tidak dalam waktu yang lama) dan belum tentu diikuti dengan perasaan senang dan dari situ di peroleh keputusan.
Minat besar pengaruhnya terhadap belajar karena bila bahan pelajaran yang diperoleh tidak sesuai dengan minat siswa, siswa tidak akan belajar dengan sebaik-baiknya, karena tidak ada daya tarik baginya, ia segan-segan untuk belajar dan tidak memperoleh kepuasan dari pelajaran itu. Bahan pelajaran yang menarik minat siswa akan lebih mudah dipalajari dan disimpan, karena minat menambah kegiatan belajar.
4)      Bakat
Bakat atau aptitude menurut Hilgard adalah “the capacity to learn” dengan perkataan lain bakat adalah kemampuan untuk belajar. Kemampuan itu baru akan terealisasi menjadi kecakapan yang nyata sesudah belajar atau berlatih. Orang yang bakat mengetik, misalnya akan lebih cepat dapat mengetik dengan lancer dibandingkan dengan orang lain yang kurang atau tidak berbakat di bidang itu.
Dari uraian di tas jelaslah bahwa bakat itu mempengaruhi mempengaruhi belajar. Jika bahan pelajaran yang di pelajari siswa sesuai dengan bakatnya maka hasil belajarnya lebih baik karena ia senang belajar dan pastilah selanjutnya ia lebih giat lagi dalam belajarnya itu. Penting untuk mengetahui bakat siswa dan menempatkan siswa belajar disekolah yang sesuai dengan bakatnya.
5)      Motif
Motif erat sekali hubungannya dengan tujuan yang akan di capai. Didalam menentukan tujuan itu dapat disadari atau tidak akan tetapi unutk mencapai tujuan itu perlu berbuat, sedangkan yang menjadi penyebab berbuat adalah motif itu sendiri sebagai daya penggerak atau pendorongnya.
Dalam proses belajar haruslah diperhatikan apa yang dapat mendorong siswa agar dapat belajar dengan baik atau padanya mempunyai motif untuk berfikir dan memusatkan perhatian merencanakan dan melaksanakan kegiatan yang berhubungan atau menunjang belajar. Motif-motif di atas dapat juga ditanamkan kepada diri siswa dengan cara memberikan latihan-latihan, kebiasaan-kebiasaan yang kadang-kadang juga di pengaruhi oleh keadaan  lingkungan. Dari uraian di atas jelaslah bahwa  motif yang kuat sangatlah perlu di dalam belajar. Didalam membentuk motif yang kuat itu dapat dilakasanakan dengan adanya latihan-latihan atau kebiasaan-kebiasaan dan pengaruh lingkungan yang memperkuat. Jadi, latihan atau kebiasaan itu sangat perlu dalam belajar.
6)      Kematangan
Kematangan adalah suatu tingkat atau fase dalam pertumbuhan seseorang, dimana alat-alat tubuhnya sudah siap untuk melaksanakan kecakapan baru. Misalnya, anak dengan kakinya sudah siap untuk berjalan, tangan dan jari-jariny sudah siap untuk menulis, dengan otaknya sudah siap untuk berfikir abstrak dan lain-lain. Kematangna bukan berarti anak-anak sudah dapat melaksanakan kegiatan secara terus menerus. Untuk itu di perlukan latihan-latihan dan pelajaran. Dengan kata lain anak yang sudah siap (matang) belum dapat melaksankan kecakapannya sebelum belajar. Belajarnya akan lebih berhasil jika anak sudah siap (matang). Jadi kemajuan baru untuk memiliki kecakapan itu tergantung dari kematangan dan belajar.
7)      Kesiapan
Kesiapan atau readinesss menurut Jamies Drever adalah “Preparedness to respond or react.” Kesiapan adalah kesediaan untuk memberi response atau bereaski. Kesediaan itu timbul dari dalam diri seseorang dan juga berhubungan dengan kematangan, karena kematangan berarti kesiapan untuk melaksanakan kecakapan. Kesiapan ini perku diperhatikan dalam proses belajar, karena jika siswa belajar dan padanya sudah ada kesiapan maka hasil belajarnya akan lebih baik. (Daryanto. 2010 : 40)
c.       Faktor Kelelahan
Kelelahan pada seseorang walaupun sulit unutk dipisahkan tetapi dapat dibedakan menjadi dua macam, yaitu kelelahan jasmani dan kelelahan rohani (bersifat psikis). Kelelahan jasmani terlihat dengan lemah lunglainya tubuh dan timbul kecendrungan untuk membaringkan tubuh. Kelelahan jasmani terjadi karena , terjadinya kekacauan substansi sisa pembakaran di dalam tubuh, sehingga darah tidak atau kurang lancer pada bagain-bagaian tertentu.
Kelelahan rohani dapat dilihat dengan adanya kelesuan dan kebosanan sehingga minat dan dorongan untuk menghasilkan sesuatu hilang. Kelelahan ini sangat terasa pada bagian kepala dengan pusing-pusing sehingga sulit unutk berkonsentrasi, seolah-olah otak kehabisan daya unutk bekerkja. Kelelahan rohani dapat terjadi terus menerus memikirkan masalah yang di anggap berat tanpa istirahat, menghadapi hal-hal yang selalu sama atau konstan tanpa ada variasi, dan mengerjakan sesuatu karena terpaksa dan tidak sesuai dengan bakat, minat dan perhatiannya.
Dari uraian di atas dapatlah di mengerti bahwa kelelahan itu mempengaruhi belajar. Agars siswa dapat belajar dengan baik haruslah menghindari jangan sampai terjadi kelelahan dalam belajarnya sehingga perlu d usahan kondisi yang bebas dari kelelahan.
Kelelahan baik sifatnya jasmani maupun rohani dapat di redakan dengan cara-cara sebagai berikut :
1)      Tidur
2)      Istirahat
3)      Mengusahan variasi dalam belajar, juga dalam bekerja.
4)      Menggunakan obat-obat yang bersifat melancarkan peredaran darah , misalnya obat gosok dan lain-lain.
5)      Rekreasi dan ibadah yang teratur
6)      Olahraga secara teratur
7)      Mengimbangi makan dengan makanan yang memenuhi syarat-syarat kesehatan, misalnya yang memenuhi empat sehat lima sempurna.
8)      Jika kelelahan sangat serius cepat-cepat menghubungi seorang ahli, misalnya dokter, psikiater, koselor, dan lain-lain. (Daryanto. 2010 : 40)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar