BAB II
PEMBAHASAN
A.
Faktor
Intern
Pada
faktor intern ini akan di bahas mengenai kecerdasan intelektual (IQ),
kecerdasan emosional (EQ), dan kecerdasan spiritual (SQ). Dimana bukan hanya
ada tiga faktor saja yang mempengaruhi belajar dalam faktor intern melainkan
terdapat juga tiga faktor yang lain yakni adalah faktor jasmaniah, faktor
psikologi dan faktor kelelahan.
1.
Kecerdasaan
Intelektual (IQ)
Kecerdasaan
Intelektual (IQ) merupakan kecerdasan dasar yang berhubungan dengan proses
kognitif, pembelajaran (kecerdasan intelektual) cenderung menggunakan kemampuan
matematis-logis dan bahasa, pada umumnya hanya mengembangkan kemampuan kognitif
(menulis, membaca, menghafal, menghitung, dan menjawab). Kecerdasan ini di
kenal dengan kecerdasan rasional karena menggunakan potensi rasio dalam
memecahkan masalah, penilaian kecerdasan dapat di lakukan melalui tes atau
ujian daya ingat, daya nalar, penguasaan kosa kata, ketepatan meghitung, mudah
menganalisis data. Dengan ujian tersebut dapat dilihat tingkat kecerdasan
intelektual seseorang.
Kecerdasan
intelektual atau intelligence Quotient (IQ) muncul sejak dalam kehidupan
keluarga dan masyarakat, sejak anak di dalam kandungan
sampai tubuh menjadi dewasa. Kecerdasan intelektual
(intelegensi) merupakan aspek psikologi yang dapat mempengaruhi kuantitas dan
kualitas seseorang dalam perolehan pembelajaran.
Kecerdasan
intelektual (IQ) pada umumnya dapat di artikan sebagai kemampuan psiko-fisik
untuk mereaksikan ransangan aatau diri dengan lingkungan dengan cara yang
tepat. Semenjak zaman pencerahan yang mengagungkan kemajuan ilmu pengetahuan
sebagai lambang kemajuan peradaban, intelegensi naik daun dan di anggap sebagai
prediktor utama kesuksesan, bahkan mungkin satu-satunya. Sehingga salah kaprah
terhadap konsep IQ dan terjadi pemberhalaan (IQ). Sering terjadi pertukaran
konsep di kalangan awam antara intelegensi dan IQ.
Intelegensi
adalah sebuah konsep yang dioperasionalkan dengan suatu alat ukur, dan keluaran
dari alat ukur inilah yang di berupa IQ. Angka yang keluar adalah angka
berdasarkan satuan tertentu. Semacam gram untuk berat dan meter untuk jarak.
Konsep inilah yang harus diluruskan agar tidak menimbulkan beragam penafsiran,
jadi IQ adalah satuan ukur.
Sesuai
dengan berjalannya zaman, manusia mulai menyadari bahwa faktor emosi tidak
kalah pentingnya dalam mendukung sebuah kesuksesan, bahkan di pandang lebih
penting dari pada intelegensi. Demikian pula penerapannya dalam kehidupan
organisasi, intelegensi tidak lagi dianggap satu-satunya faktor yang menentukan
kinerja seseorang. Dalam konsep kompetensi faktor-faktor seperti motivasi,
kepemimpinan mendapat perhatian yang signifikan. (Iskandar. 2012
: 58)
2.
Kecerdasan
Emosi (EQ)
Istilah
kecerdasan emosional pertama kali di lontarkan pada tahun 1990 oleh psikolog
Peter Salovey dari Harvard University dan Jhon Meyer dari University of New
Hampshire. (Aunurrahman. 2012 : 85)
Daniel
Goleman melalui bukunya yang terkenal (Emotional Intellegence) atau kecerdasan
emosional. Goleman mencoba memberi tekanan pada aspek kecerdasan intra-personal
atau antar pribadi. Inti dari kecerdasan ini adalah mencakup kemampuan untuk
membedakan dan menanggapi dengan tepat suasana hati, temperamen, motivasi,
hasrat antar-pribadi ini lebih menekankan terhadap aspek kognisi atau
pemahaman. Sementara faktor emosi atau perasaan kurang di perhatikan. Padahal
menurut Goleman, faktor emosi ini sangat penting dan memberikan suatu warna
yang kaya dalam kecerdasan antar-pribadi ini. (Iskandar. 2012
: 59)
Tokoh-tokoh
seperti Sternberg, Baron dan Salovey sebagimana di ungkapkan oleh Goleman di sebutkan ada lima kecerdasan
pribadi dalam bentuk kecerdasan emosional, yaitu :
a.
Kemampuan
mengenali emosi diri
Kemampuan
mengenali emosi diri merupakan kemampuan seseorang dalam mengenali perasaannya
sendiri sewaktu perasaan atau emsosi itu muncul. Ini sering di katakan sebagai
dasar dari kecerdasan emosional. Seseorang yang mampu mengenali emosinya
sendiri ialah bila ia mampu mengenali kepekaaan yang tajam atas perasaan mereka
yang sesungguhnya dan kemudian mengambil keputusan-keputusan secara
mantap. Misalnya sikap yang di ambil
dalam menentukan berbagai piliha,
seperti memiliki sekolah, sahabat, pekerjaan sampai kepada pemilihan pasangan
hidup.
b.
Kemampuan
mengelola emosi
Kemampuan
mengelola emosi merupakan kemampuan seseorang untuk mengendalikan perasaanya
sendiri sehingga sehingga tidak meledak dan akhirnya dapat mm=empengaruhi
perasaanya secara salah. Misalnya seseorang yang sedang marah, maka kemarahan
itu tetap dapat di kendalikan secara baik tanpa harus menimbulkan akibat yang
akahirnya disesali di kemudian hari.
c.
Kemampuan
memotivasi diri
Kemampuan
memotivasi diri merupakan kemampuan untuk memnerikan semangat kepada diri
sendiri untuk melakukan sesuatu yang baik daan bermanfaat.dalam hal ini
terkandung adanya unsur harapan dan optimisme yang tinggi sehingga seseorang
memiliki kekuatan semangat untuk melakukan aktifitas tertentu. Misalnya dalam
bekerja, belajar, menolong irang lain dan sebagainya.
d.
Kemampuan
mengenali emosi oarang lain (Empati )
Kemampuan
mengenali emosi orang lain (empati) merupakan
kemampuan untuk mengerti parasaan dan kebutuhan orang
lain, sehingga orang lain akan merasa senang dan dimengerti perasaannya.
Anak-anak yang memiliki kemampuan ini, yaitu sering pula disebut sebagai
kemampuan berempati, mampu menangkap pesan non verbal dan orang lain : nada
bicara, gerak-gerik maupun ekspresi wajah dari orang lain tersebut. Dengan
demikian anak-anak ini akan cenderung disukai orang.
e.
Kemampaun
membina hubungan sosial
Kemampaun
membina hubungan sosial adalah kemampuan mengelola emosi orang lain, sehingga
tercipta keterampilan sosial yang tinggi dan membuat pergaulan seseorang jadi
luas. Anak-anak dengan kemampuan ini cenderung memppunyai banyak teman, pandai bergaul dan cenderung
menjadi lebih populer. (Iskandar. 2012 : 60)
Maka
disini dapat kita simpulkan betapa pentingnya kecerdasan emosional dikembangkan
pada diri siswa (peserta didik). Karena begitu banyak kita jumpai siswa, dimana
mereka begitu cerdas di sekolah, begitu cemerlang prestasi akademisnya, namun
apabila mereka tidak dapat mengelola emosinya seperti mudah marah, mudah putus
asa, angkuh dan sombong, maka prestasi tersebut tidak akan banyak bermanfaat
bagi dirinya. Ternyata kecerdasan emosional perlu lebih di hargai dan di
kembangkan pada siswa (peserta didik) sedini mungkin dari tingkat pendidikan
usia dini sampai ke perguruan tinggi.
Karena hal inilah yang mendasari
keterampilan seseorang di tengah masyarakt kelak, sehingga akan membuat
potensinya dapat berkemabang dengan lebih optimal.
Kecerdasan
emosi berkaitan dengan pemahaman diri dan orang lain, beradaptasi dan
menghadapi lingkungan sekitar, dan penyesuaian secara cepat agar lebih berhasil
dalam menghadapi tuntutan lingkungan.
Bagaimana
cara kita meningkatkan kecerdasan emosi?
a.
Membaca
situasi dengan memperhatikan situasi sekitar anda, anda akan memperhatikan
situasi sekitar.
b.
Mendengarkan
dan menyimak lawan bicara anda yang selalu merasa benar punya kecendrungan
untuk tidak mendengar kata orang lain. Luangkan waktu untuk melakukannya, maka
anda akan tahu apa yang sebenarnya terjadi.
c.
Siap
berkomunikasi jurus ini memang paling ampuh. Lakukan komunikasi biarpun
pada situasi sulit.
d.
Tak
usah takut ditolak adakalanya orang ragu-ragu bertindak karena takut di tolak
orang lain. Sebelum berinisiatif, sebenarnya anda Cuma punya dua pilihan : di
terima atau ditolak. Jadi, siapkan saja diri anda yang penting usaha.
e.
Mencoba
berempati EQ tinggi biasany didapati pada orang-orang yang mampu berempati atau
mengehentikan situasi yang di hadapi orang lain. Caranya, apalagi kalau bukan
mendengarkan dengan baik?
f.
Pandai
memilih prioritas ini perlu supaya anda bisa memilih perkerjaan yang mendesak,
dan apa yang bisa ditunda.
g.
Siap
mental sikap mental tempe itu sudah ketinggalan zaman. Situasi apapun yang akan
di hadapi, anda mesti menyiapkan mental sebelumnya. Ingat, tidak ada kesukaran
yang tidak dapat ditangani. Paling tidak, anda sudah berusaha.
h.
Ungkapkan
lewat kata-kata bagaimana orang bisa membaca pikiran anda kalau anda diam
seribu bahasa? Ungkapkan pikiran anada lewat kata-kata yang jelas.
i.
Bersikap
rasional betul, kecerdasan emosi berhubungan denga perasaan tetapi, tetap
memerlukan pola pikiran yang rasional, apalagi dalam pekerjaan.
j.
Fokus
konsentrasi diri anda pada suatu masalah yang perlu mendapat perhatian. Janagn
memaksa diri melakukan dalam 4-5 masalah secara bersamaan. 2 atau 3 mungkin
maasih bisa di tangani, tapi lebih dari
itu, anda bisa kehabisan energi.
( Iskandar. 2012 : 64)
3.
Kecerdasan
Spritual atau Spritual Quotient (SQ)
Kecerdasan
spritual (SQ) merupakan kemampuan individu terhadap mengelola nilai-nilai,
norma-norma dan kualitas kehidupan dengan memanfaatkan kekuatan pikiran bawah
sadar atau lebih dikenal dengan suara hati (God Spot).
Sebagaimana
firman Allah SWT, yang artinya : “Tidakkah mereka melakukan perjalanan dimuka
bumi, sehingga mereka mempunyai hati dengan itu merasa, dan mempunyai telinga
dan dengan itu mereka mendengar? Sungguhnya bukan matanya yang buta, tetapi
yang buta adalah hatinya, yang ada dalam (rongga) dadanya.” (QS. Al-Hajj : 46).
Kecerdasan
spiritual disini bermakna bahwa seseorang individu yang ridho dan memiliki rasa
tanggung jawab kepada sang pencipta serta kemampuan menghayati nilai-nilai
agama. Keridhoan dapat diartikan sebagai kemampuan seseorang untuk menerima
dengan hati yang rela peraturan-peraturan yang telah digariskan oleh agama.
Tanggung jawab pada sang pencipta dapat membantu seseorang individu untuk terus
belajar dan bekerja tanpa rasa jemu. Allah membimbing dengan siapa yang
mengikuti keridhoan-Nya melalui jalan-jalan keselamatan, dan membawa mereka
dengan izin-Nya keluar dari kegelapan menuju cahaya. Berdasarkan firman Allah
yang berbunyi : “ Sesungguhnya aku ciptakan
jin dan manusia adalah untuk beribadah kepada KU” (QS.
Al-Maidah : 16).
Kecerdasan
spiritual yang memadukan antara kecerdasan intelektual dan emosional menjadi
syarat penting agar manusia lebih memaknai hidup dan menjalani hidup pebuh
berkah. Terutama, pada masa sekarang, di mana manusia modern terkadang
melupakan mata hati dalam melihat segala sesuatu.
Manusia
modern adalah manusia yang mempunyai kualitas intelektual yang memada, karena
telah menempuh pendidikan yang memadai pula. Salah satu ciri yang kental dalam
diri manusia modern adalah suka membaca. Hal ini sejalan dengan syariat Islam,
dimana syariat pertamanya membaca. Namun terkadang kualitas intelektual tersebut terkadang tidak di barengi
dengan kualitas iman atau emosional yang baik, sehingga berkah yang di harapkan
setiap manusia dalam hidupnya tidak dapat di peroleh.
Untuk
itu setiap manusia perlu mendapatkan suatu pelatihan dan
pemahaman tentang kecerdasan emosi (EQ), dengan tujuan untuk menciptakan
manusia yang memiliki karakter tangguh, jujur, bijaksana, pengertian, dan
beriman. Setiap manusia perlu mengetahui dan memaknai bahwa kecerdasan
spiritual justru mampu meningkatkan kemampuan EQ disamping IQ sehingga terjadi
momentum peningkatan harkat kehidupan yang berjalan sepanjang hidup.
Berbagai
penelitian mengenai tubuh manusia bahkan membuat kita lebih terpesona lagi akan
kebesaran Tuhan Allah SWT dalam menciptakan manusia. Sebagaimana ciptaan yang
sempurna ini bekerja, berfikir, dam bergerak , menganalisa dan mengambil
keputusan, memunculkan berbagai gagasan yang indah dan juga hebat, hingga
manusia ini bisa berhasil dan terkenal, berkemampuan logika maupun spiritual,
mempunyai emosi (IQ, EQ, SQ) yang bila digunakan ke arah positif akan memberi
suatu hikmah pencapaian yang luar biasa. (Iskandar. 2012 : 68)
Selain
dari faktor di atas, terdapat juga faktor intern yang lain dan akan di bahas
menjadi tiga faktor yakni adalah faktor jasmaniah, faktor psikologi dan factor
kelelahan.
a.
Faktor
Jasmaniah
1)
Faktor Kesehatan
Sehat
berarti dalam keadaan baik segenap badan beserta bagian-bagiannya atau bebas
dari penyakit, kesehatan adalah keadaan atau hal sehat, kesehatan seseorang
berpengaruh terhadap belajarnya.
Proses
belajar seseorang akan terganggu jika kesehatan seseorang terganggu, selain itu
akan cepat lelah, kurang semangat mudah pusing, ngantuk jika badannya lemah
kurang darah ataupun ada gangguan-gangguan atau kelainan-kelainan fungsi alat
indranya serta tubuhnya.
Agar
seseorang dapat belajar dengan baik haruslah mengusahakan kesehatan badannya
tetap terjamin dengan cara selalu mengindahkan ketentuan-ketentuan tentang bekerja, belajar,
istirahat, tidur, makan, olah raga, ibadah.
2)
Cacat
Tubuh
Cacat
tubuh adalah sesuatu yang menyebabkan kuarang baik atau kurang sempurna
mengenai tubuh atau badan.
Cacat
itu dapat berupa buta, setengah buta, tuli, setengah tuli, patah kaki, dan
patah tangan, lumpuh dan lain-lain. Keadaan cacat tubuh juga akan mempengaruhi
belajar. Siswa yang cacat belajarnya akan terganggu. Jika hal ini terjadi,
hendaknya ia belajar pada lembaga pendidikan khusus atau diusahakan alat bantu
agar dapat menghindari atau mengurangi pengaruh kecacatannya.
b.
Faktor
Psikologi
Sekurang-kurangnya
ada tujuh faktor yang tergolong ke dalam faktor psikologis yang mempengaruhi
belajar. Faktor-faktor itu adalah : intelegensi, perhatian, minat, bakat,
motif, kematangan , dan kesiapan.
1)
Intelegensi
Untuk memberikan
pengertian tentang intelegensi, JP Chaplin merumuskan sebagai berikut :
a)
The
ability to meet adapt to novel situations quickly and effectively.
b)
The
ability to utilize abstract concepts effectively.
c)
The
ability to grasp realitionship and to learn quickly.
Jadi
intelegensi itu adalah kecakapan yang terdiri dari tiga jenis yaitu kecakapan
untuk mengahadapi dan menyesuaikan ke dalam situasi yang baru dengan cepat dan
efektif, mengetahui atau menggunakan konsep-konsep yang abstrak secara efektif,
mengetahui relasi dan mempelajarinya dengan cepat.
(Daryanto. 2010 : 37)
Intelegensi
besar pengaruhnya terhadapa kemajuan belajar dalam situasi yang sama, siswa
yang mempunyai tingkat intelegensi yang tinggi akan lebih berhasil dari pada
yang mempunyai tingkat intelegensi yang rendah, walaupun begitu siswa yang
mempunyai intelegensi tinggi belum pasti berhasildalam belajarnya. Hal ini di
sebabkan karena belajar adalah suatu proses yang kompleks dengan banyak faktor
yang mempengaruhinya, sedangkan intelegensi adalah salah satu factor di atas factor yang lainnya.
Jika factor yang lain bersifat menghambat atau berpengaruh negative terhadap
belajar akhirnya siswa gagal dalam belajarnya, siswa yang mempunyai tingkat
intelegensi yang normal dapat berhasil dengan baik dalam belajar, jika ia
belajar dengan baik artinya belajar dengan menerapkan metode belajar yang
efisien dan dan factor-faktor yang mempengaruhi belajar (faktor jasmaniah, psikologi, keluarga, sekolah, masyarakat)
memberi pengaruh yang positif. Jika siswa memiliki intelegensi yang rendah, ia
perlu mendapat pendidikan dilembaga pendidikan khusus.
2)
Perhatian
Perhatian
menurut Gazali adalah keaktifan jiwa yang dipetinggi, jiwa itupun semata-mata
tertuju kepada suatu objek (benda atau hal) atau sekumpulan obyek. Unutk dapat
menjamin hasil belajar yang baik, maka siswa harus mempunyai perhatian terhadap
bahan yang dipelajari jika bahan pelajaran tidak mnejadi perhatian siswa maka
timbullah kebosanan, sehingga ia tidak lagi sua belajar. Agar siswa dapat
belajar denan baik, usahakanlah bahan pelajaran selalu menarik perhatian dengan
cara mengusahakan pelajaran itu sesuai dengan hobi atau bakatnya.
(Daryanto. 2010 : 37)
3)
Minat
Hilgard
memberi rumusan tentang minat adalah sebagai berikut :
“Interes is
persisting tendency to pay attention to and enjoy same activity or content.”
(Daryanto. 2010 : 38)
Minat
adalah kecendrungan yang tetap untuk
memperhatikan dan mengenang beberapa kegiatan. Kegiatan yang diminati seseorang
diperhatikan terus menerus yang disertai dengan rasa senang. Jadi, berbeda
dengan perhatian, karena perhatian sifatnya sementara (tidak dalam waktu yang
lama) dan belum tentu diikuti dengan perasaan senang dan dari situ di peroleh
keputusan.
Minat
besar pengaruhnya terhadap belajar karena bila bahan pelajaran yang diperoleh
tidak sesuai dengan minat siswa, siswa tidak akan belajar dengan sebaik-baiknya,
karena tidak ada daya tarik baginya, ia segan-segan untuk belajar dan tidak
memperoleh kepuasan dari pelajaran itu. Bahan pelajaran yang menarik minat
siswa akan lebih mudah dipalajari dan disimpan, karena minat menambah kegiatan
belajar.
4)
Bakat
Bakat
atau aptitude menurut Hilgard adalah “the capacity to learn” dengan perkataan
lain bakat adalah kemampuan untuk belajar. Kemampuan itu baru akan terealisasi
menjadi kecakapan yang nyata sesudah belajar atau berlatih. Orang yang bakat
mengetik, misalnya akan lebih cepat dapat mengetik dengan lancer dibandingkan dengan orang
lain yang kurang atau tidak berbakat di bidang itu.
Dari
uraian di tas jelaslah bahwa bakat itu mempengaruhi mempengaruhi belajar. Jika
bahan pelajaran yang di pelajari siswa sesuai dengan bakatnya maka hasil
belajarnya lebih baik karena ia senang belajar dan pastilah selanjutnya ia
lebih giat lagi dalam belajarnya itu. Penting untuk mengetahui bakat siswa dan
menempatkan siswa belajar disekolah yang sesuai dengan bakatnya.
5)
Motif
Motif erat sekali hubungannya dengan tujuan yang akan di
capai. Didalam menentukan tujuan itu dapat disadari atau tidak akan tetapi
unutk mencapai tujuan itu perlu berbuat, sedangkan yang menjadi penyebab
berbuat adalah motif itu sendiri sebagai daya penggerak atau pendorongnya.
Dalam
proses belajar haruslah diperhatikan apa yang dapat mendorong siswa agar dapat
belajar dengan baik atau padanya mempunyai motif untuk berfikir dan memusatkan
perhatian merencanakan dan melaksanakan kegiatan yang berhubungan atau menunjang
belajar. Motif-motif di atas dapat juga ditanamkan kepada diri siswa dengan
cara memberikan latihan-latihan, kebiasaan-kebiasaan yang kadang-kadang juga di
pengaruhi oleh keadaan lingkungan. Dari
uraian di atas jelaslah bahwa motif yang
kuat sangatlah perlu di dalam belajar. Didalam membentuk motif yang kuat itu
dapat dilakasanakan dengan adanya latihan-latihan atau kebiasaan-kebiasaan dan
pengaruh lingkungan yang memperkuat. Jadi, latihan atau kebiasaan itu sangat
perlu dalam belajar.
6)
Kematangan
Kematangan
adalah suatu tingkat atau fase dalam pertumbuhan seseorang, dimana alat-alat
tubuhnya sudah siap untuk melaksanakan kecakapan baru. Misalnya, anak dengan
kakinya sudah siap untuk berjalan, tangan dan jari-jariny sudah siap untuk menulis,
dengan otaknya sudah siap untuk berfikir abstrak dan lain-lain. Kematangna
bukan berarti anak-anak sudah dapat melaksanakan kegiatan secara terus menerus.
Untuk itu di perlukan latihan-latihan dan pelajaran. Dengan kata lain anak yang
sudah siap (matang) belum dapat melaksankan kecakapannya sebelum belajar.
Belajarnya akan lebih berhasil jika anak sudah siap (matang). Jadi kemajuan
baru untuk memiliki kecakapan itu tergantung dari kematangan dan belajar.
7)
Kesiapan
Kesiapan
atau readinesss menurut Jamies Drever adalah “Preparedness to respond or
react.” Kesiapan adalah kesediaan untuk memberi response atau bereaski.
Kesediaan itu timbul dari dalam diri seseorang dan juga berhubungan dengan
kematangan, karena kematangan berarti kesiapan untuk melaksanakan kecakapan.
Kesiapan ini perku diperhatikan dalam proses belajar, karena jika siswa belajar
dan padanya sudah ada kesiapan maka hasil belajarnya akan lebih baik.
(Daryanto. 2010 : 40)
c.
Faktor
Kelelahan
Kelelahan
pada seseorang walaupun sulit unutk dipisahkan tetapi dapat dibedakan menjadi
dua macam, yaitu kelelahan jasmani dan kelelahan rohani (bersifat psikis).
Kelelahan jasmani terlihat dengan lemah lunglainya tubuh dan timbul
kecendrungan untuk membaringkan tubuh. Kelelahan jasmani terjadi karena , terjadinya
kekacauan substansi sisa pembakaran di dalam tubuh, sehingga darah tidak atau kurang
lancer pada bagain-bagaian tertentu.
Kelelahan
rohani dapat dilihat dengan adanya kelesuan dan kebosanan sehingga minat dan
dorongan untuk menghasilkan sesuatu hilang. Kelelahan ini sangat terasa pada
bagian kepala dengan pusing-pusing sehingga sulit unutk berkonsentrasi,
seolah-olah otak kehabisan daya unutk bekerkja. Kelelahan rohani dapat terjadi
terus menerus memikirkan masalah yang di anggap berat tanpa istirahat, menghadapi
hal-hal yang selalu sama atau konstan tanpa ada variasi, dan mengerjakan
sesuatu karena terpaksa dan tidak sesuai dengan bakat, minat dan perhatiannya.
Dari
uraian di atas dapatlah di mengerti bahwa kelelahan itu mempengaruhi belajar. Agars siswa
dapat belajar dengan baik haruslah menghindari jangan sampai terjadi kelelahan
dalam belajarnya sehingga perlu d usahan kondisi yang bebas dari kelelahan.
Kelelahan
baik sifatnya jasmani maupun rohani dapat di redakan dengan cara-cara sebagai
berikut :
1)
Tidur
2)
Istirahat
3)
Mengusahan
variasi dalam belajar, juga dalam bekerja.
4)
Menggunakan
obat-obat yang bersifat melancarkan peredaran darah , misalnya obat gosok dan
lain-lain.
5)
Rekreasi
dan ibadah yang teratur
6)
Olahraga
secara teratur
7)
Mengimbangi
makan dengan makanan yang memenuhi syarat-syarat kesehatan, misalnya yang
memenuhi empat sehat lima sempurna.
8)
Jika
kelelahan sangat serius cepat-cepat menghubungi seorang ahli, misalnya dokter,
psikiater, koselor, dan lain-lain. (Daryanto. 2010 : 40)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar