Senin, 05 Januari 2015

FAKTOR EKTERNAL yang mempengaruhi proses belajar



A.    Faktor Ekstern
Faktor ektern yang berpengaruh terhadap belajar dapatlah di kelompokkan menjadi 3 faktor, yaitu factor keluarga, factor sekolah, dan faktor masyarakat.
1.      Faktor Keluarga
Siswa yang belajar akan menerima pengaruh dari keluarga berupa : cara orang tua mendidik, relasi antara anggota keluarga, suasana rumah tangga dan keadaan ekonomi keluarga, pengertian orang tua, latar belakang kebudayaan keluarga.
a.       Cara orang tua mendidik
Cara orang tua mendidik anaknya besar pengarunhnya terhadap belajar anaknya. Hal ini jelas dan di pertegas dengan pernyataan yang menyatakan bahwa keluarga adalah lembaga pendidikan yang utama dan pertama. Keluarga adalah keluarga yang sehat besar artinya untuk mendidik dalam ukuran kecil, tetapi bersifat menentukan untuk pendidikan dalam ukuran besar yaitu pendidikan bangsa, Negara, dan dunia.melihat pernyataan di atas dapatlah dipahami betapa pentingnya peranan keluarga di dalam pendidikan anaknya. Cara orang tua mendidik anak-anaknya akan berpengaruh terhadap belajarnya.
Orang tua yang kurang atau tidak memperhatikan pendidikan anaknya, misalnya mereka acuh tak acuh terhadap belajar anaknya, tidak memperhatikan sama sekali akan kepentingan-kepentingan dan kebutuhan-kebutuhan anaknya dalam belajar tidak mengatur waktu belajarnya, tidak menyediakan atau melengkapi alat belajarnya, tidak memperhatikan apakah anak belajar atau tidak, tidak mau tahu bagaimanakah kemajuan belajar anaknya, kesulitan-kesulitan yang dialami dalam belajar dan lain-lain, dapat menyebabkan anak tidak atau kurang berhasil dalam belajarnya. Mungkin anak sendiri sebetulnya pandai, tetapi karena belajarnya tidak teratur akhirnya kesukaran-kesukaran menumpuk akhirnya mengalami ketinggalan dalam belajarnya dan akhirnya anak malas belajar. Hasil yang di dapatkan adalah nilai atau hasil belajarnya tidak memuaskan bahkan mungkin gagal dalam studinya. Hal ini dapat terjadi pada anak dari keluarga yang kedua orang tua yang memang tidak mencintai anaknya.
Mendidik anak dengan cara memanjakannya adalah cara mendidik yang tidak baik, orang tua yang terlalu kasihan pada anaknya tidak sampai hati untuk memaksa anaknya belajar, bahkan membiarkannya saja jika anaknya tidak belajar dengan alas an adalah segan itu tidak benar karena jika hal itiu di biarkan berlarut-larut anak menjadi nakal, berbuat seenaknya saja, pastilah belajarnya jadi kacau. Mendidik anak dengan cara memperlakukannya terlalu keras, sehingga,  memaksa dan mengejar-ngejar anaknya untuk belajar adalah cara mendidik yang salah. Dengan demikian anak tersebut diliputi ketakutan dan akhirnya benci terhadap belajar, bahkan jika akibat dari tekanan-tekanan tersebut. Orang tua yang demikian biasanya menginginkan anaknya mencapai prestasi yang sangat baik atau merasa mengetahui bahwa boleh tetapi tidak tahu apa yang menyebabkan sehingga anak dikejar-kejar untuk mengatakan mengejar kekurangan.
Disinilah bimbingan dan penyuluhan memegang peranan yang penting anak atau siswa yang mengalami kesukaran di atas dapat di tolong dengan memberikan bimbingan belajar yang sebaik-baiknya ktetntuan. Tentu saja keterlibatan orang tua akan sangat  mempengaruhi keberhasilan bimbingan tersebut.
b.      Relasi antara Anggota Keluarga
Relasi antara anggota keluarga yang terpenting adalah relasi orang tua dengan anaknya. Selain itu, relasi antara anak dengan saudaranya atau dengan  anggota keluarga yang lainpun turut mempengaruhi belajar anak. Wujud relasi itu misalnya apakah hubungan itu penuh dengan kasih sayang dn pengertian atau diliputi dengan kebencian, sikap yang acuh tak acuh dan sebagainya. Begitu juga relasi anak dengan saudaranya atau dengan anggota keluarganya yang alain tidak baik akan dapat memberikan problem yang sejenis.
Sebelumnya relasi antara anggota kelaurga  ini erat hubungannyadengan cara orag tua mendidik. Uraian cara orang tua mendidik di atas menunjukkan relasi yag tidak baik. Relasi semacam itu akan menyebabkan perkembangan anak terhamba, belajarnya terganngu dan bahkan akan menimbulkan masalah-masalah psikologis yang baru.
Demi kelancaran belajar serta keberhasilan anak, perlu di usahakan relasi yang baik di dalam keluarga. Hubungan yang baik adalah hubungan yang prnuh pengertian dan kasih sayang, di sertai dengan bimbingan dan bila perlu hukuman-hukuman untuk mensukseskan belajar anak sendiri.
c.       Suasana Rumah
Suasana rumah di maksudkan sebagai situasi atau kejadian- kejadian yang sering terjadi didalam keluarga dimana anak berada dan belajar. Suasana rumah merupakan faktor yang sangat penting yang tidak termasuk faktor yang di sengaja. Suasana rumah yang gaduh atau ramai tidak akan member ketenangan paa anak yang akan belajar, suasana rumah seperti itu terjadi pada rumah yang besar dan banyak penghuninya. Suasana rumah yang gaduh dan sering terjadi pertengkaran antara keluarga atau dengan kelurga yang lain menyebabkan anak menjadi bosan di rumah, suka keluar rumah dan akibatnya belajar akan menjadi kacau.
Rumah yang sering di pakai untuk keperluan-keperluan misalnya resepsi,, pertemuan-pertemuan, dan pesta-pesta dan lain-lain dapat mengganggu belajar apalagi ruangan yang bising dengan suara radio, tape recorder, TV pada waktu belajar juga mengganggu belajar juga terutama untuk berkonsentrasi. Semua conoth di atas adalah suasana rumah yang member pengaruh anak tidak bias belajar dengan baik.
d.      Keadaan Ekonomi Keluarga
Kedaan ekonomi kelaurga juga erat hubngannya dengan belajar anak-anak, selain harus terpengaruh kebutuhan pokok misalnya makanan, pakaian, perlindungan kesehatan dan lain-lain juga membutuhkan fasilitas belajar seperti ruang belajar, meja, kursi, penerangan, alat tulis menulis, buku-buku dan lain-lain. Fasilitas belajar tersebut hanya dapat terpenuhi jika keluarga mempunyai cukup uang.
Jika anak hidup dalam keluarga yang miskin, kebutuhan pokok anak kurang akiabatnyakesehatan anak terganngu, sehingga belajar anak juga terganggu. Akibatnya anak sering kali dirundung kesedihan dan akhirnya minder dengan teman-temannya. Hal ini pasti akan menggangu belajar anak, bahkan mungkin anak harus bekerja mencari nafkah untuk membantu orang tuanya walaupun sebenarnya anak belum saatnya untuk bekerja. Hal lain juga yang akan mengganggu belajar anak walupun tidak dapat dipungkiri tentang kemungkinan anak yang serba kekurangan dan selalu menderita akibat ekonomi yang lemah. Justru keadaan tersebut mnejadi cabmbuk baginya untuk belajar lebih giat dan kahirnya sukses besar.
Sebaliknya keluarga ynang kaya raya, orang tua sering mempunyai kecendrungan untuk memanjakan anak. Anak hanya bersenang-senang dan berfoya-foya, akibatnya anak kurang atau tidak bias memusatkan perhatiannya kepada belajar.hal tersebut juga dapat menggangu belajar anak.
e.       Pengertian Orang Tua
Anak belajar perlu dorongan dan pengertian orang tua. Bila anak belajar dan di ganggu dengan tugas-tugas di rumah, kadang-kadang anak mengalami lemah semangat, maka dari itu orang tua wajib memberi pengertian dan mendorongnya membantu sedapat mungkin kesulitan yang di alami anak di sekolah. Kalau perlu menghubungi gurunya untuk mengetahui perkembangan anaknya di sekolah.
f.       Latar Belakang Kebudayaan
Tingkat pendidikan atau kebiasaan di dalam keluarga mempengaruhi sikap anak dalam belajar. Perlu ditanamkan kebiasaan-kebiasaan yang baik pada anak, agar mendorong anak semangat untuk belajar. (Daryanto. 2010 : 37)
2.      Faktor Sekolah
Faktor sekolah yang mempengaruhi belajar ini mencakup metode mengajar, kurikulum, relasi guru dengan siswa, relasi siswa dengan siswa, disiplin siswa disiplin sekolah, pelajaran, waktu sekolah, standar pelajaran, keadaan gedung, metode belajar dan tugas rumah. Berikut akan di bahas faktor tersebut satu persatu.
a.       Metode Mengajar
Metode mengajar adalah suatu cara atau jalan yang harus di lalui dalam mengajar, mengajar adalah menyajikan bahan pelajaran oleh seseorang kepada orang lain agar orang lain menerima, menguasai dan mengembangkannya. Di dalam lembaga pendidikan, orang lain yang disebut di atas, di sebut sebagai murid atau siswa dan mahasiswa, yang dalam proses belajar mengajar agar dapat menerima, menguasai dan lebih-lebih mengembangkan bahan pelajaran itu. Maka cara-cara mengajar serta cara belajar haruslah setepat-tepatnya dan seefisien serta seefektif mungkin.
Metode mengajar guru yang kurang baik agar mempengaruhi siswa yang tidak baik pula. Metode belajar yang kurang baik itu dapat terjadi, misalnya karena guru kurang persiapan dan kurang menguasai bahan pelajaran sehingga guru tersebut menerangkannya tidak jelas atau sikap guru terhadap siswa dan atau terhadap mata pelajaran itu sendiri tidak baik, sehingga siswa kurang senang terhadap pelajaran atau gurunya, akibatnya siswa malas untuk belajar.
Guru yang lama biasa mengajar dengan metode ceramah saja, siswa akan menjadi bosan, mengantuk, pasif dan hanya mencatat saja. Guru yang progresif berani mencoba metode-metode yang baru, yang dapat membantu meningkatkan kegiatan belajar mengajar dan meningkatkan motivasi siswa untuk belajar. Agar siswa dapat belajar dengan baik maka metode mengajar harus di usahakan yang setepat, seefisien mungkin.
b.      Kurikulum
Kurikulum di artikan sebagai penjumlah kegiatan yang di berikan kepada siswa, kegiatan itu sebagian besar adalah menyajikan bahan pelajaran agar siswa menerima, menguasai dan mengembangkan bahan pelajaran itu. Jelaslah bahan pelajaran itu mempengaruhi belajar siswa. Kurikulum yang  kurang baik berpengaruh tidak baik terhadap hasil belajar.
Kurikulum yang tidak baik itu misalnya, kurikulum yang terlalu padat, di atas kemampuan siswa, tidak sesuai dengan bakat, minat, dan perhatian siswa. Guru perlu mendalami siswa dengan baik, harus mempunyai perencanaan yang mendetail agardapat melayani siswa belajar secara individual ,  namun kurikulum sekarang belum dapat memberikan pedoman perencanaan yang demikian.
c.       Hubungan Guru dengan Siswa
Proses belajar mengajar terjadi antara guru dengan siswa, proses tersebut juga di pengaruhi oleh relasi yang ada dalam proses itu sendiri, jadi cara belajar siswa juga di pengaruhi oleh hubungan dengan gurunya.
Di dalam hubungan (relasi guru dengan siswa) yang baik, siswa akan menyukai gurunya, juga akan menyukai mata pelajaran yang di ajarkan sehingga siswa berusaha mempelajari sebaik-baiknya. Hal tersebut juga terjadi sebaliknya, jika siswa membenci gurunya, ia segan mempelajari mata pelajaran yang di berikannya akibatnya pelajaran tidak maju.
d.      Hubungan Siswa dengan Siswa
Guru yang kurang mendekati siswa dan kurang bijaksana, tidak akan melihat bahwa di dalam kelas ada kelompok yang saling bersaing secara tidak sehat, jiwa kelas tidak terbina  bahkan hubungan masing-masinh individu tidak nampak.
Siswa yang mempunyai sifat-sifat atau tingkah laku yang kurang menyenangkan teman, mempunyai rasa rendah diri atau sedang mengalami tekanan-tekanan batin, akan di asingkan dari kelompoknya, akibatnya makin parah masalahnya  dan akan mengganggu belajarnya. Lebih-lebih lagi ia menjadi malas untuk masuk sekolah dengan alasan yang tidak-tidak, karena di sekolahnya mengalami perlakukan yang kurang menyenangkan dari teman-temannya. Jika hal ini terjadi, segeralah siswa di beri pelayanan bimbingan dan penyuluhan agar dapat di terima kembali ke dalam kelompoknya.
e.       Disiplin Sekolah
Kedisiplinan sekolah erat hubungannya dengan kerajinan siswa dalam sekolah dan juga dalam belajar. Kedisiplinan sekolah mencakup kedisiplinan guru dalam mengajar dengan melkasanakan tertib-tertib, kedisiplinan pegawai atau karyawan dalam pekrjaan admonistrasi dan kebersihan atau keteraturan kelas, gedung sekolah, halaman dan lain-lain. Begitu juga kedisiplinan Kelapa Sekolah dalam mengelola seluruh staf beserta siswa-siswanya, dan kedisiplinan team BP dalam pelayanan kepada siswa. Banyak sekolah yang dalam pelaksanaan disiplin kurang, sehingga mempenagruhi sikap siswa dalam belajar. Dimana dalam proses belajar, siswa perlu disiplin untuk mengembangkan motivasi siswa.
f.       Alat Pelajaran
Alat pelajaran sangat erat kaitannya dengan cara belajar siswa, karena alat pelajaran yang di pakai oleh guru pada waktu mengajar dipakai juga oleh siswa untuk menerima bahan pelajaran yang diajarkan itu. Alat pelajaran yang lengkap dan tepat akan memperlancar penerimaan bahan pelajaran yang diberikan kepada siswa. Jika siswa mudah menerima pelajaran dan menguasainya, maka belajarnya akan menjadi lebih giat dan lebih maju.
Mengusahakan alat pelajaran yang baik dan lengkap adalah perlu agar guru dapat mengajar dengan baik sehingga siswa dapat menerima pelajran dengan baik, serta dapat belajar dengan baik pula.
g.      Waktu Sekolah
Waktu sekolah ialah waktu terjadinya proses belajar mengajar di sekolah, waktu itu dapat pagi hari, siang, sore atau malam hari. Waktu sekolah juga mempengaruhi belajar siswa. Akibat meledaknya jumlah anak yang masuk sekolah dan penambahan gedung sekolahbelum seimbang dengan jumlah siswa, banyak siswa yang terpaksa masuk sekolah di sore hari. Hal sebenarnya kuarang dapat dipertanggung jawabkan, dimana ssiwa harus beristirahat tetapi terpaksa masuk sekolah sehingga mereka mendenagrkan pelajaran sambil mengantuk dan sebagainya. Sebalikny bagi siswa yang belajar di pagi hari, pikiran masuh segar, jasmani dan kondisi yang baik.
h.      Standar Pelajaran di atas Ukuran
Guru berpendirian untuk mempertahankan wibawanya, sering memberi pelajaran di atas ukuran standar, akibatnya siswa kurang mampu dan taku pada guru. Guru harus memberikan penyajjian materi harus sesuai dengan kemampuan siswa masing-masing. Yang penting tujuan yang telah dirumuskan dapat tercapai.
i.        Keadaan Gedung
Keadaan gedung juga sangat berpengaruh terhadap proses belajar mengajar, hal ini di karenakan bahwa apabila gedung yang di gunakan besar dan dapat menampung seluruh siswa yang banyak, sehingga siswa-siswa dapat belajar dengan enak tanpa adanya ketidaknyamanan karena gedung yang di gunakan sempit dan sesak.
j.        Metode Belajar
Banyak siswa melaksanakan cara belajar yang salah. Cara belajar yang tepat akan efektif pula hasil belajar siswa, juga dalam pembagian waktu untuk belajar. Dengan belajar yang tepat maka dan secara teratur setiap hari maka sehingga akan meningkatkan hasil belajar. (Daryanto. 2010 : 49)
3.      Faktor Masyarakat
Masyarakat merupakan faktor ekstern yang juga berpengaruh terhadap belajar siswa. pengaruh itu terjadi karena keberadaanya siswa dalam masyarakat. Barikut ini faktor masyarakat yang mempengaruhi belajarnya.
a.       Kegiatan Siswa Dalam Masyarakat
Kegiatan siswa dalam masyarakat dapat menguntungkan terhadap perkembangan pribadinya. Akan tetapi jika siswa ambil bagian dalam kegiatan masyarakat yang terlalu banyak, misalnya berorganisasi, kegiatan-kegiatan sosial, keagamaan dan lain-lain. Akan tetapi jika terlalu berlebihan maka belajarnya akan terganggu, lebih-lebih jika tidak bijaksana dalam mengatur waktunya.
b.      Mass Media
Yang termasuk dalam mass media adalah bioskop, radio, TV, surat kabar, majalah, buku-buku, komik dan lain-lain. Semua itu ada dan beredar dalam masyarakat.
Mass media yang baik akan memberi pengaruh yang baik terhadap siswa dan juga terhadapbelajarnya. Sebaliknya mass media yang buruk akan memberi pengaruh buruk terhadap siswa.
c.       Bentuk Kehidupan Mayarakat
Kehidupan masyarakat di sekitar siswa juga sangat berpengaruh terhadap belajar siswa. Masyarakat yang terdiri dari tidak terpelajar, penjudi, suka mencuri dan lain-lain maka akan berpengaruh jelek terhadap siswa atau anak yangberada disitu. Siswa akan tertarik untuk melakukan hal-hal yang di lakukan oleh orang di sekitarnya. Akibatnya belajar akan menjadi terganggu dan bahkan siswa akan kehilangan semangat belajar karena perhatiannya semual terpusat kepada pelajaran berpindah ke perbuatan-perbuatan yang selalu di lakukan oarang-orang di sekitarnya. (Daryanto. 2010 : 50)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar